• Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size
  • default color
  • cyan color
  • red color
Artikel
Seniman sebagai Juru Bicara Keadilan
Ditulis Oleh Sofia Awaliyah   
Rabu, 31 Desember 2008

Seniman sebagai Juru Bicara Keadilan

Oleh: Sofia Awaliyah

Peneliti dan Pegiat Sastra pada Sukabumi Institute

 

Kelahiran sebuah karya seni dan kesusastraan modern bagaimanapun dalam beberapa hal tak dapat menampik dan lari dari realitas dan krisis yang ada dalam masyarakat. Banyak karya sastra dunia juga seni yang mengungkapkan ikhwal kegelisahan akan situasi sosial, krisis dan heteroglosia zaman, terutama karya-karya dari seniman neo-marxisme dan posmodernisme. Seni dan sastra dalam sejarahnya selalu menjadi medium sekaligus instrumen propaganda politik, karena keterlibatannya sekaligus menunjukan posisi sang seniman sebagai juru bicara keadilan, atau Avant Gardist.

 

George Lukacs barangkali salah satu tamsilan dari seorang sastrawan dan pemikir neo-marxisme Eropa yang menempatkan seni dan seniman sebagai juru bicara keadilan dan bahkan sebagai juru bicara revolusi lewat realisme sosialis. Realitas yang diungkap lewat karya sastra realisme sosialisnya sungguh memiliki cita-cita dasar pembebasan masyarakat dari tirani kelas dan modal atau kapitalisme.

 

Setiap karya yang dituangkan seniman selalu memuat misi sekaligus unsur-unsur kontradiksi yang ada dalam masyarakat. Seniman lain seperti Maxim Gorky dalam novel “Ibunda” misalnya, juga menampilkan wajah sosialisnya, perihal proses perjuangan masyarakat Rusia yang hendak melawan tirani kekuasaan Tsar di suatu masa ketika ideologi komunisme begitu mempesona kaum muda Rusia dalam era revolusi kala itu.

 

Kehadiran lirik dan lagu satir grup band Slank yang vulgar dalam menyinggung dan menampar wajah anggota parlemen kita barangkali secuil kisah kritik yang dilakukan insan “seniman” atau pekerja seni di negeri ini. Sekalipun dalam beberapa hal kadang grup musik ini juga tampil lewat karya dan penampilannya yang mengabdi pada kepentingan modal dan massa, di tengah haru biru budaya pop kultur.

 

Di Indonesia musisi yang melakukan kritik jauh sebelum Slank sebenarnya telah banyak yang menyuarakan krisis politik dan sosial masyarakat kita, Iwan Fals, Hary Rusli, Franky Sahilatua dan lainnya adalah beberapa musisi diantara banyak musisi lainnya yang jauh jauh hari telah melakukan sitiran dan kritik atas kondisi sosial politik kita.

 

Para seniman seperti penyair Wiji Tukul yang bernasib tragis akibat sitirannya atas rezim Orde Baru, bahkan hingga kini harus tenggelam tanpa meninggakan jejak dan jasadnya ketika harus mengalami penculikan, saat itu sedikit yang membela bahkan mayoritas terkesan bungkam karena rezim politik yang totaliter.

Dalam kasus Slank tentu saja nasib tragis yang menimpa Wiji Tukul tak terjadi, sebab zaman sudah demokratis. Namun lepas dari apakah lirik yang disuguhkan vulgar atau tidak, atau apakah biasa-biasa saja di zaman demokrasi seperti sekarang, tentu saja setiap lirik lagu, satiran dalam musik maupun novel dan karya seni lainnya yang lahir dari rahim pegiat seni, sastra dan seniman sesungguhnya merefleksikan sebuah situasi karut marut zaman ini.

 

Sebagai entitas atau bagian dari masyarakat politis kritikan Slank dan barangkali pekerja seni lainnya tentu saja sah-sah saja. Sebab dalam tahap tertentu tak sedikit para seniman mampu menjadi penyambung lidah rakyat dalam melakukan kritik sosial. Meski tentu aja ditengah masifnya kebudayaan industri kita tidak menampik ada pihak tertentu yang melakukan kapitalisasi atas setiap lirik dan lagu yang dimainkan. Namun setidaknya apa yang dilakukan grup band Slank, menunjukan adanya sebuah keberpihakan pada suara hati rakyat yang sudah lelah dengan tindakan korupsi para anggota parlemen kita selama ini.

 

Seni dan keterlibatan sosial

 

Apa yang ditampilkan para penghibur dan pekerja seni kita sesungguhnya menunjukan sebuah keterlibatan sosial yang aktif, dalam proses pembentukan formasi kebudayaan mendatang, meski dengan caranya masing-masing. Dalam kasus Slank dan banyak musisi lain ditengah merebaknya arus pementasan massif, konser dan sejenisnya  yang menenggelamkan kesadaran individu dalam kubangan kolektif. Kesenian seharusnya juga mencerminkan realitas negatif, terlibat dalam transmisi kebudayaan, dan proses pembentukan identitas budaya yang memiliki akar dan habitus dari kultur yang ada selain hanya melayani kepentingan kapital.

 

Dengan itu tentu saja sang pendengar atau penikmat musik tak hanya disajikan menu musik yang hanya mampu mendayu imaji, mengoyak perasaan dan bangunan ilusi lainnya yang ditampilkan para idola masa kini. Bahkan hingga yang paling banal industri musik kita tenggelam dalam kubangan erotisme dan hanya menempatkan vulgarisme tubuh.

 

Fenomena Slank dan juga musisi lainnya tentu saja mencerminkan secercah refleksi atas situasi sosial yang kini sedang dirundung nestapa krisis berkepanjangan. Sehingga kultur industri massif itu memiliki tugas penyadaran terhadap massa. Sehingga teknik dan reproduksi mekanis atas karya seni juga tak kehilangan cita-cita dasar yaitu keterlibatan sosialnya.

 

Para musisi dan pekerja seni lainnya tentunya dapat belajar dari para seniman yang dalam sejarahnya mampu menjadi juru bicara keadilan. Sebab walau bagaimanapun para musisi, sastrawan dan pekerja seni tak bisa lepas dari keterlibatannya dalam menyokong perubahan formasi-formasi sosial yang ada dalam masyarakat mutakhir. Sehingga dari setiap karya yang ditampilkan selain memiliki kekuatan entertainment, juga sekaligus memiliki elemen kritis di dalamnya. Sehingga para pendengar musik atau pembaca sastra dapat dengan kritis merefleksikan situasi sosial yang ada.

 

Seni dengan demikian tidak jauh dari realitas sosial, karena setiap karya sesungguhnya berdiri dan berada dalam sejarah itu sendiri, sebagaimana melekat dalam karya-karya Pramudia Ananta Toer. Dan juga tampil dalam komposisi-komposisi musikal yang ada di barat. Yang juga menampilkan elemen kritik sosial pada zaman tertentu, sebagaimana dilakukan Jhon Lenon, serta musisi lainnya yang memiliki keresahan, terutama di era perang dunia kedua.

 

Karena itu lepas dari bentuk musikalitas yang ditampilkan Slank,vulgar atau verbal dari lirik yang diciptakannya. Setidaknya itu menunjukan sebuah posisi keterlibatan sosialnya di tengah mengarungi arus kepentingan komoditi dan industri. Slank dan barangkali musisi lainnya memang bukan seniman yang sepenuhnya menjadi juru bicara keadilan. Tapi apa yang ditampilkannya setidaknya memberi dan mengingatkan kritisisme yang telah dibangun para seniman masa lalu, di tengah budaya massa dan industri kebudayaan yang selalu berwajah ganda itu.

 

 

     

 
Kaum Muda dan Pesona Kuasa
Ditulis Oleh Sofia Awaliyah   
Rabu, 31 Desember 2008

Oleh: Sofia Awaliyah

Peneliti pada Sukabumi Institute

ImageSelama ini “Kaum Muda” sebagai kosa kata politik, memiliki konotasi yang identik dengan semangat pembaruan, progresif dan transformatif. Meski ideom itu belum tentu mewakili kategori heroik macam di atas. Atau jangan-jangan hanya melayani semangat heroisme sebagaimana tampil dalam bentuk kekuasaan hirarkis [monarki absolute] jauh sebelum era modern lalu. Sebab istilah itu sendiri sulit dicari batasan dan makna yang melekat di dalamnya.

Pemutakhiran Terakhir ( Senin, 05 Januari 2009 )
Selengkapnya...
 
Jejak “Sandiwara” Rakyat Nusantara
Ditulis Oleh Sofia Awaliyah   
Minggu, 28 Desember 2008

“…dan seperti layaknya situasi gaduh dalam sandiwara penuh dagelan, kejenakaan dan satiran, gaduh krisis dan karut marut cerita tentang negeri inipun penuh satir, tawa dan kejenakaan, hingga terjadi proses pelupaan atas struktur dan bangunan kisah di dalamnya, kecuali riuh tawa yang tersisa, meski dalam lirih dan perih kata”.

ImageKonon di masa lalu jauh sebelum akulturasi terjadi, kesenian rakyat yang tampil dalam bentuk wayang orang, atau kini lebih dikenal Ludruk di Surabaya, dan ketoprak di Jawa Tengah, wayang golek di Jawa Barat, dan sandiwara lainnya yang tampil secara realis; memuat situasi dramaturgi, mimikri kata, mistis, kosmologis dan dominasi dagelan serta jenaka di dalamnya. Masing-masing memiliki keunikan cerita dan persamaannya. Sebuah tampilan cerita yang selalu didahului selama setengah jam dengan pembukaan yang jenaka, gelak tawa dan rona mistik serta ajaran moral yang disajikan secara realistis. Dibalik tampilan dan pentasan selalu ada ritual dan tahap-tahap yang menjadikan seni tradisi ini memiliki basis kosmologis, meski di abad ke-19 lebih terlihat popular, selayaknya serio-comic populer.

Pemutakhiran Terakhir ( Selasa, 30 Desember 2008 )
Selengkapnya...
 
Pendidikan Politik
Ditulis Oleh danny   
Kamis, 06 November 2008

Pendidikan Politik

 

ImageDitulis oleh Dafid Firdaus, SHI (Alumni MAKN angkatan 1997)

Calon Anggota DPRD Provinis Jawa Barat

Dari Partai Amanat Nasional

Daerah Pemilihan Jabar X (Ciamis, Kuningan, Banjar)

Curiculum Vittae klik disini

 

 

Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah diturunkan bersama mereka al-kitab dan neraca (keadilan) suapaya manusia dapat melaksanakan keadilan. Dan Kami ciptakan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai manfaat bagi manusia..” (Al-Hadid:25)

 

Dalam Fiqh Siyasah kontemporer, pemerintahan Islam di bangun atas tiga prisip, sebagaimana diteorikan oleh Abdul Ghafar Aiz (Imawan Wahyudi, 1997:11). Pertama, adanya batas-batas kendali bagi penguasa; Kedua, adanya pertanggungjawaban sikap dan tindakan penguasa terhadap rakyat dan kesalahan-kesalahannya, Ketiga, adanya serah terima kepada rakyat jika penguasa berhenti memerintah.

Pemutakhiran Terakhir ( Minggu, 09 November 2008 )
Selengkapnya...
 
Hujan Uang Dari Langit
Ditulis Oleh moderator   
Selasa, 28 Oktober 2008
ImageSiapa yang menduga kalau istilah uang jatuh dari langit itu benar-benar terjadi di Indonesia,baca selengkapnya disini Tung Desem Waringin Ia menebar uang dari langit sebagai bagian dari protes marketing Siapa yang menduga kalau istilah uang jatuh dari langit itu benar-benar terjadi di Indonesia, tepatnya di pinggiran kota jakarta awal Juni lalu.
Pemutakhiran Terakhir ( Rabu, 05 November 2008 )
Selengkapnya...
 
<< Awal < Sebelumnya 1 2 Berikutnya > Akhir >>

Hasil 1 - 9 dari 11
Advertisement

Pendaftaran