FireBoard
Selamat datang, Tamu
Silakan Login atau Daftar.    Sandi Hilang?
Terorisme: antara Nasionalisme dan Doktrin Agama (1 orang melihat) (1) Tamu
Ke Bawah Total Favorit: 0
TOPIK: Terorisme: antara Nasionalisme dan Doktrin Agama
#213
aceng (Pengguna)
Fresh Boarder
Pesan: 3
graphgraph
Pengguna Offline
Terorisme: antara Nasionalisme dan Doktrin Agama 5 Bulan, 4 Minggu yang lalu Karma: 0  
Bom bunuh diri yang ada di dunia, sebagian terbesarnya terjadi di Sri Lanka. Yaitu, serangan bom bunuh diri dari kelompok Macan Tamil untuk memperjuangkan kemerdekaan mereka. Atas dasar itu, kesimpulan besarnya, bahwa bom bunuh diri tidak bermotif ekonomi atau pun radikalisme keagamaan, melainkan nasionalisme tingkat ekstrim. Demikian pandangan Ihsan Ali-Fauzi, seraya mengutip hasil penelitian Robert Pape, dalam diskusi dan pemutaran film, Jumat (04/09) sore di Yayasan Wakaf Paramadina.

Ihsan menambahkan, masih merujuk pada penelitian Pape, bahwa teror bom bunuh diri hanya terjadi di negara-negara demokratis. Beda dengan negara otoriter, pemimpin di negara demokratis bisa diajak negosiasi. Disadari atau tidak, teror bom bunuh diri adalah cara bernegosiasi. Adalah dosa besar di negara demokratis jika ada warganya yang kehilangan nyawa. Harga nyawa sangat mahal. Sehingga, ancaman teror efektif untuk menekan pemerintah untuk mengusir kekuatan asing ada di wilayah tanah air mereka.

Negosiasi atau tekanan melalui bom bunuh diri tidak bisa terjadi di negara otoriter. Sebab, bagi pemerintah otoriter, nyawa seperti tidak penting jika memang mengganggu kekuasaan. Nyawa, murah. Karena itu, bom bunuh diri tidak efektif untuk menekan pemerintah. Kemudian, alasan lain, di negara otoriter, pers disensor. Sehingga bom bunuh diri yang mereka lakukan tidak akan mendapat daya “ledak” luas. Tekanan dan ancaman kepada pemerintah pun gagal.

Tesis besar Pape lainnya, lanjut Ihsan, bahwa bom bunuh diri adalah weapon of the weak (sejata kaum lemah). Para teroris secara sadar tidak akan mampu melawan kekuatan yang sedang mereka hadapi jika harus berhadap-hadapan. Maka dengan meledakan diri sembari membunuh yang lainnya, adalah cara yang efektif. Dengan demikian, pemerintah memperhatikan mereka. Dan dengan demikian, negosiasi teroris dengan pemerintah berlangsung. Dengan sendirinya, negosiasi antara pemerintah dengan kekuatan yang asing yang bercokol di negerianya.

Namun demikian, gagasan Pape ini hanya bisa melihat motif teroris dan organisasinya di tingkatan atas, atau para tokoh di balik bom bunuh diri. Sementara membaca para "pengantin" gagasan Pape kurang bisa menjelaskan. Toh pada kenyataannya bahasa agama menyelimuti pikiran para eksekutor bom bunuh diri.

Sehingga, sebagai peneliti, Ihsan mengingatkan peserta, pertema-tama perlu meletakkan objek kajian sebagai objek. Lalu, data-data yang ada perlihatkan seakurat dan sedetail mungkin. Kemudian, jujur kepada data yang ada. Sehingga peneliti mesti respek jika pada faktanya para “pengantin” percaya bahwa pasca kematian mereka telah menunggu bidadari yang manis-manis.

Pemaparan di atas adalah hasil investigasi ilmiah Robert Pape. Investigasi tersebut adalah satu-satunya peneliti yang meneliti bom bunuh diri secara sistematis dan lengkap.

Namun demikian, Bagi Ihsan, cara lain di luar studi ilmiah juga bisa menjadi cara memahami bom bunuh diri. Novel dan film, mislanya. Memang, novel dan film bukan fakta, tetapi betatapun fiksi novel dan film mesti masuk akal. Dan cerita yang masuk akal bertitik pangkal dari fakta. Sembari, atas kefiksiannya, novel dan film menyumbangkan segala kemungkinan yang mungkin terjadi konapa orang rela melakukan bom bunuh diri.

Dengan demikian, bom bunuh diri tidak bisa dilihat semata karena ideologi atau jaringan keagamaan. Penelitian yang lebih sitematik dapat membawa kita pada motif besarnya. Dan, dalam kurun waktu 20 tahun, bom bunuh diri umumnya dilakukan oleh motif nasionalisme.

Meski begitu, kita tidak boleh menutup mata bahwa ideologi agama juga memiliki peran. Para teroris membungkus agenda mereka dan menghasut para "pengantin" melakukan aksinya dengan bahasa yang berlumuran wahyu. Adalah tugas kita bersama mengeliminasi tafsir dalam agama, khsusnya Islam, yang menghalalkan cara kekerasan mengatasi persoalan, duniawi ataupun ukhrowi.

Traitor (2008)

Sebelum diskusi digelar, peserta disuguhi film tentang terorisme. Panitia memilih Traitor (2008), film besutan Jeffrey Nachmanoff, sebagai hidangan pembuka. Jeffrey yang berkebangsaan Amerika membuat peserta sadar bahwa film ini datang dari cara pandangan orang Amerika. Meski begitu, apresiasi peserta atas film ini tidfak berkurang sekalipun film ini terasa nuansa Hollywood-nya.

Traitor bercerita tentang kisah Samir Horn (Don Cheadle), seorang muslim yang taat dan ahli merakit bom. Keahliannya merakit bom ia dapatkan dari pelatih Amerika dalam rangka "perang dingin" di Afganistan. Dalam satu penyergapan di Sudan, CIA terlibat di sana, Samir tertangkap. Di penjara, ia berteman berteman dengan kelompok Islam radikal. Atas jasa mereka lah ia bisa keluar dan menghidup udara bebas.

Kebebasan Samir secara fisik sudha ia dapatkan. Namun, Omar (Said Taghmaoui), temannya semasa di penjara, segera mengajak Samir dengan berbagai dalil keagamaan untuk masuk dalam kelompok terorisme Islam. Ketaatan dan pemahaman keagamaan Islam, membuat Omar tidak kesulitan mengajak Samir menjadi salah satu aktor utama setiap serangan yang akan dilakukan.

Beberapa penyerangan pun dilakukan. Mulai dari serangan bom di Spanyol, Perancis, dan Inggris. Semua direncanakan dengan matang. Yang paling menarik dari semua serangan, persiapan menjelang penyerangan dimulai dengan dialog kagamaan untuk melegitimasi aksi teror tersebut. Argumen utama yang seringkali meluncur adalah bahwa Barat adalah musuh Islam. Serangan bom tersebut sebagai perlawanan atas teror yang dilakukan Amerika dan sekutunya di Timur Tengah.

Dalam salah satu dialog, Samir merasa aneh atas prilaku Fareed Mansour (Ally Khan) yang tak segan meminum minuman keras, minuman yang diharamkan Islam. Fareed dengan enteng menjawab bahwa ia tengah melakukan taqiyah (menyemar sebagaimana perilaku musuh). Samir tidak nyaman dengan kanyataan ini. Tetapi ketaknyamanan ini segera sirna saat Samir sadar bahwa ada ia tengah menghadapi musuh amat kuat, Barat.

Selain itu, film ini juga menyuguhkan betapa organisasi teroris amat kaku. Sedikit saja melakukan kesalahan, nyawa taruhannya. Jadi, kempleksitas persoalan terorisme dari dalam (inside) tidak bisa direduksi menjadi persoalan kemiskinan atau deprivasi relatif, juga soal radikalisme agama. Lebih dari itu ada kekokohan organisasi. Sehingga orang yang terlibat dalam organisasi terorisme akan berhadapan dengan sistem yang tidak sederhana. Sekali saja melanggaran aturan main organisasi, bisa merusak keseluruhan sistem.

Sebagai film Hollywood lainnya, tokoh muslim, sang teroris menjadi pahlawan. Namun, yang tak kalah ke-Hollywood-annya, Samir hanya menjadi pahlawan karena dukungan yang kuat dari tokoh Amerika. Jadi, pesan besarnya malah sanga pahlawan yang sungguhnya, ada di balik kesadaran Samir, agen CIA.

Meski begitu, kita masih bisa memetik hikmah dari film ini. Bahwa terorisme di level bawah, penjelasan doktrin keagamaan sebagai motif sangat mungkin dilakukan. Toh, bukan sekedar membunuh musuh, tetapi pasca mati sudah menanti 70 bidadari (bidadari cowok) cantik nan jelita di surga.

Namun di level atas (pendonor), penjelasan keagamaan saja tidak cukup. Sebab di sana ada kepentingan ekonomi politik internasional yang ikut andil memperumit benang kusut terorisme. Jelasnya, pembelaan atas negara muslim yang diinjak-injak Amerika dan sekutunya begitu menonjol.
 
Logged Logged  
  Administrator telah menonaktifkan akses tulis publik.
Ke Atas
Powered by FireBoarddapatkan pesan-pesan terbaru langsung pada desktop Anda

Cari berita

Berlangganan

Masukan alamat email untuk berlangganan:

Delivered by FeedBurner


Suport Administrator

lutfi danny nurul

Donasi

klik di sini untuk menjadi donatur www.ranahdamai.org

Web Link

Ponpes Darussalam
kampusciamis
Special Gadget
milis alumni darussalam
milis MTs

Mau ikutan nglink di sini? silahkan kirim permintaan kamu melalui e-mail ke Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus memampukan JavaScript untuk melihatnya