Puisi
Pusi yang membuat aku tersenyum kembali PDF Cetak E-mail
Ditulis Oleh lutfi alfandra   
Minggu, 30 Mei 2010
Disaat kamu ingin melepaskan seseorang..ingatlah pada saat kamu ingin mendapatkannya

Disaat kamu mulai tidak mencintainya...ingatlah saat pertama kamu jatuh cinta padanya

Disaat kamu mulai bosan dengannya...ingatlah selalu saat terindah bersamanya

Disaat kamu ingin menduakannya...bayangkan jika dia selalu setia

Saat kamu ingin membohonginya...ingatlah disaat dia jujur padamu

Maka kamu akan merasakan arti dia untukmu

Jangan sampai disaat dia sudah tidak disisimu,

Kamu baru menyadari semua arti dirinya untukmu

Yang indah hanya sementara

Yang abadi adalah kenangan

Yang ikhlas hanya dari hati

Yang tulus hanya dari sanubari

Tidak mudah mencari yang hilang

Tidak mudah mengejar impian

Namun yg lebih susah mempertahankan yg ada

Karena walaupun tergenggam bisa terlepas juga

Ingatlah pada pepatah,

"Jika kamu tidak memiliki apa yang kamu sukai, maka sukailah apa yang kamu miliki saat ini"

Belajar menerima apa adanya dan berpikir posotif....

Hidup bagaikan mimpi, seindah apapun, begitu bangun semuanya sirna tak berbekas

Rumah mewah bagai istana, harta benda yang tak terhitung, kedudukan, dan jabatan yg luar biasa, namun...

Ketika nafas terakhir tiba, sebatang jarum pun tak bisa dibawa pergi

Sehelai benang pun tak bisa dimiliki

Apalagi yang mau diperebutkan

Apalagi yang mau disombongkan

Maka jalanilah hidup ini dengan keinsafan nurani

Jangan terlalu perhitungan

Janga hanya mau menang sendiri

Jangan suka sakiti sesama apalagi terhadap mereka yang berjasa bagi kita

Belajarlah tiada hari tanpa kasih

Selalu berlapang dada dan mengalah
Hidup ceria, bebas leluasa...

Tak ada yang tak bisa di ikhlaskan....

Tak ada sakit hati yang tak bisa dimaafkan
Tak ada dendam yang tak bisa terhapus....
 
Kangen Bapak PDF Cetak E-mail
Ditulis Oleh husni mubarok   
Rabu, 19 Mei 2010

Kangen Bapak

Mata menatap tajam pada helai demi helai,

kata demi kata berjalan di bola mata,

dering HP memecah sunyi,

"Bapak meninggal"

Innalillahi wainna ilaihi rajium.

Mata tak dapat mengeja kata,

mata tak bermata,

kata tak berkata,

daun telinga tak terima kata,

hening.

 

 
PERSAHABATAN PDF Cetak E-mail
Ditulis Oleh IKIN ZENAL MUTTAQIN   
Jumat, 17 April 2009
Image

Sahabat sejati lahir dari hati nurani,

sahabat yang murni lahir dari lubuk hati,

sahabat abadi persahabatan yang ku ingin.

seperti halnya mutiara,

datang dari dalam dan dasar laut.

begitu pun kata sahabat,

datang dari lubuk hati yang paling dalam.

 
Buat Anak Didikku... PDF Cetak E-mail
Ditulis Oleh M. Syahbudin   
Senin, 09 Februari 2009

HARAPAN BARU NINA APRISKA

 

Dalam sunyi malam aku terdiam menatap

Pada sinar bulan memancar laksana “Atin Nurhayati”

membingkai hati penuh “Fauzi Rahman”

Pada sepertiga malam menghadap Tuhan

Bersujud pasrah sebagai “Abdul Aziz” dengan penuh

“Fitriyani Lathifah” penyejuk sukma

 

Dalam gelap langit tiada berbintang

Perasaan “Hanny Nur Afifah” membentuk asa hati

Menuju “Kiki Zakiyah” dalam “Fachri” Kehidupan

Membentuk “Rizka Khaerunnisa”

dan menjadi “Wildan Rija Ussuddin”

dalam dunia abadi surgawi penuh warna-warni

 

Pagi itu pun “Nurusshobah” kujelang

Menyongsong “Nuri Aminun Najib”

di hari yang mulai berganti

menuju “Fadly M. Fathurrahman”

dalam masa penuh harapan baru

dalam jiwa “Ipah Nurkhalifah”

dari cita dan asaku, Nina Apriska.

 
KENANGANKU PDF Cetak E-mail
Ditulis Oleh M. Syahbudin, S. Ag., M. Pd.I.   
Minggu, 08 Februari 2009

DARUSSALAM

(Ranah Kedamaian)

  

Kampung persinggahan,

mengukir jati diri dengan mengaji kitab suci.

Datang dan pergi,

dari bilik santri menuju majelis berjalan kaki.

Tidak ada yang berlari menghindari, bila disapa kyai.

 

 Masjid adalah altar peribadahan,

tempat memacu diri berdzikir pada Ilahi,

mentasbihkan kesucian-Nya lewat kalimah-kalimah thayyibah,

melantun berirama mencari ridha-Nya.

  

Kolam penghias wajah Ranah Damai ini,

adalah sepetak rahasia dalam dadaku,

yang kutanami dengan rerumputan pengetahun menjalar ke sanubari.

  

Dalam diamku,

nyiur menyapa dan bercerita kisah lama tentang satu nama

yang membuatku terpesona dan selalu ada dalam baris cerita,

Rasa-rasanya aku ingin menjadi bagian dari cerita itu,

seperti dia, berguna dan berjasa.

Darussalam bukan puncak pass ataupun kebun raya, tempat rekreasi,

dimana keluarga bercengkrama dan tertawa melepas kepenatan,

anak-anak bermain, berlarian penuh canda ria;

ia bukan pula tempat penginapan,

sehingga setiap orang bisa datang dan bermalam melepas lelah.

 

Darussalam tempat menerpa diri,

mengasah hati, membentuk pribadi Qur’ani,

terbilang gamblang di lautan pendidikan Islam.

Ia tempat dimana santri bersyair dengan lirik-lirik dzikir,

berdendang dengan berjuta irama do’a,

menuju samudera ilmu nan luas terbentang.

 

Kutempuhi jalannya berliku dan berbatu,

menghias perjuanganku mencapai cita-cita.

Sawah nan hijau lambang kedamain ummat,

bersatu padu bahu membahu menyanyikan satu lagu izzul Islam wal muslimin.

Darussalam harapan ummat, mencetak muslim moderat, mukmin demokrat, muhsin diplomat, dan surga sebagai rahmat.

 

Darussalam, Ranah Indah Nyiur Melambai,

Kampus Biru Menara Ilmu, hanya satu tempatku,

untuk berjuang bersamamu.

 

 

Darussalam, Desember 2003

Syihabuddin al-Bughury

 

 

GITA BINTANG

(Gambaran Hati Manusia)

 

 Bilakah tiba masa bercinta

Antara dua insan manusia

Dengan hati penuh cahaya dan cerita

Terpaut rasa rindu membara

Satukan jalan,

padukan tujuan,

padamkan dendam

Menggores pena asmara, membentang peta cinta

Meraih cita-cita seirama mengiringi nyanyian bintang nan indah

 

 Bilakah masa terus berdenting mengusik hari

Kugapai detik-detik dedaunan rindu, memburu di dalam kalbu

Agar rasa tetap hangat setiap saat

Hadapi segala laku yang hanyut dalam waktu

 

 Gita angkara telusuri naluri

Dengan resah desah gelisah

Hadapi manusia terkungkung jiwa yang pernah patah

Pada dinding-dinding hati

Keras bagai baja merantai diri, tiada henti terasa mati

 

Gita jiwa di malam sembilu

Hening membisu dalam batin, diam bercucur air mata

Penuh luka tanpa darah, memutikkan kembang,

Padamkan pelita, gelapkan sukma

Degup napas-napas terus diburu

Oleh derita yang masih tersisa

Bunga-bunga terus berguguran di sayat panasnya angin

Hilang menyisakan tangkai rapuh dan kering

 

Dalam lautan sukma, gelombang kebencian semakin pasang

Badai amarah semakin mengganas

Kapal kasih pun tenggelam

Ditelan oleh dahsyatnya gemuruh kepalsuan

 

Gita bintang meniti waktu

Antara janji dan kenyataan, antara ada dan tiada

Sebuah janji indah terpatri pada rembulan

Nyata terhalang awan mendung,

lelah melangkah janji terbelah

Semuanya hanya kata-kata dusta, berselimut tipu daya

 

Kini, aku terus menangis, bersujud di kaki bumi

merajut hati tiada henti,

dengan benang dzikir pada Ilahi

 

Gita bintang di langit malam

Tak ada lagi ruang menampung kegelapan

Bintang cemerlang, bulan pun terang

Menghias cakrawala berbaris cahaya gemilang

Gita alam Tuhan ciptakan

Mengajarkan manusia hakikat kasih sayang

Mengingatkan keraguan memupuskan harapan

Setiap orang berhati legam

 

Kini, saatnya harus memilih,

Dengan lembaran hati yang putih

Bersama gita cinta-Nya merasuk dalam dada

Mengikuti bintang-bintang dan rembulan yang berpijar

Membangun asa yang tersisa.

 

Darussalam, 16 Mei 2003

Syihabuddin al-Bughury

 
Lagi...

Cari berita

Berlangganan

Masukan alamat email untuk berlangganan:

Delivered by FeedBurner


Suport Administrator

lutfi danny nurul

Donasi

klik di sini untuk menjadi donatur www.ranahdamai.org

Web Link

Ponpes Darussalam
kampusciamis
Special Gadget
milis alumni darussalam
milis MTs

Mau ikutan nglink di sini? silahkan kirim permintaan kamu melalui e-mail ke Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus memampukan JavaScript untuk melihatnya