Puisi
Ditulis Oleh IKIN ZENAL MUTTAQIN
Jumat, 17 April 2009
Sahabat sejati lahir dari hati nurani,
sahabat yang murni lahir dari lubuk hati,
sahabat abadi persahabatan yang ku ingin.
seperti halnya mutiara,
datang dari dalam dan dasar laut.
begitu pun kata sahabat,
datang dari lubuk hati yang paling dalam.
Selengkapnya...
Ditulis Oleh M. Syahbudin
Senin, 09 Februari 2009
Pada sinar bulan memancar laksana “Atin Nurhayati”
membingkai hati penuh “Fauzi Rahman”
Pada sepertiga malam menghadap Tuhan
Bersujud pasrah sebagai “Abdul Aziz” dengan penuh
“Fitriyani Lathifah” penyejuk sukma
Dalam gelap langit tiada berbintang
Perasaan “Hanny Nur Afifah” membentuk asa hati
Menuju “Kiki Zakiyah” dalam “Fachri” Kehidupan
Membentuk “Rizka Khaerunnisa”
dan menjadi “Wildan Rija Ussuddin”
dalam dunia abadi surgawi penuh warna-warni
Pagi itu pun “Nurusshobah” kujelang
Menyongsong “Nuri Aminun Najib”
di hari yang mulai berganti
menuju “Fadly M. Fathurrahman”
dalam jiwa “Ipah Nurkhalifah”
dari cita dan asaku, Nina Apriska.
Ditulis Oleh M. Syahbudin, S. Ag., M. Pd.I.
Minggu, 08 Februari 2009
DARUSSALAM
(Ranah Kedamaian) Kampung persinggahan, mengukir jati diri dengan mengaji kitab suci. Datang dan pergi, dari bilik santri menuju majelis berjalan kaki. Tidak ada yang berlari menghindari, bila disapa kyai. Masjid adalah altar peribadahan, tempat memacu diri berdzikir pada Ilahi, mentasbihkan kesucian-Nya lewat kalimah-kalimah thayyibah, melantun berirama mencari ridha-Nya. Kolam penghias wajah Ranah Damai ini, adalah sepetak rahasia dalam dadaku, yang kutanami dengan rerumputan pengetahun menjalar ke sanubari. Dalam diamku, nyiur menyapa dan bercerita kisah lama tentang satu nama yang membuatku terpesona dan selalu ada dalam baris cerita, Rasa-rasanya aku ingin menjadi bagian dari cerita itu, seperti dia, berguna dan berjasa. Darussalam bukan puncak pass ataupun kebun raya, tempat rekreasi, dimana keluarga bercengkrama dan tertawa melepas kepenatan, anak-anak bermain, berlarian penuh canda ria; ia bukan pula tempat penginapan, sehingga setiap orang bisa datang dan bermalam melepas lelah. Darussalam tempat menerpa diri, mengasah hati, membentuk pribadi Qur’ani, terbilang gamblang di lautan pendidikan Islam. Ia tempat dimana santri bersyair dengan lirik-lirik dzikir, berdendang dengan berjuta irama do’a, menuju samudera ilmu nan luas terbentang. Kutempuhi jalannya berliku dan berbatu, menghias perjuanganku mencapai cita-cita. Sawah nan hijau lambang kedamain ummat, bersatu padu bahu membahu menyanyikan satu lagu izzul Islam wal muslimin. Darussalam harapan ummat, mencetak muslim moderat, mukmin demokrat, muhsin diplomat, dan surga sebagai rahmat. Darussalam, Ranah Indah Nyiur Melambai, Kampus Biru Menara Ilmu, hanya satu tempatku, untuk berjuang bersamamu. Darussalam, Desember 2003
Syihabuddin al-Bughury GITA BINTANG
(Gambaran Hati Manusia) Bilakah tiba masa bercinta Antara dua insan manusia Dengan hati penuh cahaya dan cerita Terpaut rasa rindu membara Satukan jalan, padukan tujuan, padamkan dendam Menggores pena asmara, membentang peta cinta Meraih cita-cita seirama mengiringi nyanyian bintang nan indah Bilakah masa terus berdenting mengusik hari Kugapai detik-detik dedaunan rindu, memburu di dalam kalbu Agar rasa tetap hangat setiap saat Hadapi segala laku yang hanyut dalam waktu Gita angkara telusuri naluri Dengan resah desah gelisah Hadapi manusia terkungkung jiwa yang pernah patah Pada dinding-dinding hati Keras bagai baja merantai diri, tiada henti terasa mati Gita jiwa di malam sembilu Hening membisu dalam batin, diam bercucur air mata Penuh luka tanpa darah, memutikkan kembang, Padamkan pelita, gelapkan sukma Degup napas-napas terus diburu Oleh derita yang masih tersisa Bunga-bunga terus berguguran di sayat panasnya angin Hilang menyisakan tangkai rapuh dan kering Dalam lautan sukma, gelombang kebencian semakin pasang Badai amarah semakin mengganas Kapal kasih pun tenggelam Ditelan oleh dahsyatnya gemuruh kepalsuan Gita bintang meniti waktu Antara janji dan kenyataan, antara ada dan tiada Sebuah janji indah terpatri pada rembulan Nyata terhalang awan mendung, lelah melangkah janji terbelah Semuanya hanya kata-kata dusta, berselimut tipu daya Kini, aku terus menangis, bersujud di kaki bumi merajut hati tiada henti, dengan benang dzikir pada Ilahi Gita bintang di langit malam Tak ada lagi ruang menampung kegelapan Bintang cemerlang, bulan pun terang Menghias cakrawala berbaris cahaya gemilang Gita alam Tuhan ciptakan Mengajarkan manusia hakikat kasih sayang Mengingatkan keraguan memupuskan harapan Setiap orang berhati legam Kini, saatnya harus memilih, Dengan lembaran hati yang putih Bersama gita cinta-Nya merasuk dalam dada Mengikuti bintang-bintang dan rembulan yang berpijar Membangun asa yang tersisa. Darussalam, 16 Mei 2003
Syihabuddin al-Bughury
Ditulis Oleh lutfi alfandra
Sabtu, 28 Juni 2008
Perkenalkan saya linda saya dulu juga pernah sekolah di Darussalam lulusan 2002 bareng sama Dian saya juga baru tahu dari Dian yang posting disini juga kemarin, makasih yachh dian, aku juga ga bisa buat artikel tapi aku pengen ngasih puisi nehh buat yang buat tlng postingin ini yach, ini puisi yang dulu aku pernah buat saat perpisahan di Darussalam sedih banget dechhh salam buat para alumni Darussalam ciamis smuanya.. ini puisinya...
Selengkapnya...