Rakyat Indonesia menaruh harapan yang begitu tinggi kepada Obama, Bahwasanya dibawah kepemipinannya akan menjadikan sifat dan karakter serta tabiat si adikuasa Amerika Serikat akan berubah. Akankah benar akan berubah ?. Semisal menjadi berwajah ramah terhadap dunia Islam, menjadi dermawan kepada negara-negara dunia ketiga, menjadi polisi dunia yang tak arogan. Apakah benar Amerika Serikat akan menjelma menjadi seperti itu ?.
Banyak kalangan meragukannya. Menaruh harapan Obama akan mampu merubah Amerika Serikat seperti yang dikhayalkan orang seperti itu hanya akan menghasilkan kekecewaan saja. Ekpetasi yang terlampau tinggi bagi seorang Obama.
Sudah seperti semacam tugas dan kewajiban tak tertulis bagi Presiden Amerika Serikat untuk bersahabat dan melindungi Israel negara Zionis Yahudi, serta mengawali masa jabatannya dengan tradisi melakukan pengeboman atau kekerasan dengan senjata terhadap negara Islam atau negara yang berpenduduk mayoritas Islam. Giliran tugas bagi Obama sudah menanti, entah akan gilirannya jatuh kepada Suriah atau kepada Iran, atau bukan tak mungkin malahan kepada kedua-duanya. Sejarah nantinya yang akan membuktikannya.
Namun sebelumnya, Obama harus berhasil memenangi pemilu dulu secara nyata, tak hanya menang sebatas di polling-polling jajak pendapat saja. Karena ada kemungkinan kenyataan di pemilu nanti justru John McCain yang akan meraih kemenangan nyata.
Sejarah pernah mencatat, bagaimana Bush junior terpuruk di polling jajak pendapat namun justru mampu memenangi dua kali periode jabatan Presiden.
Amerika Serikat bukanlah negara ktiga atau negara Muslim. Bush Junior begitu dibenci rakyat di dunia ketiga dan di negara Muslim, namun justru Bush Juniorlah yang menjadi pilihan mayoritas rakyat Amerika Serikat pada dua kali pemilu.
Rakyat Amerika Serikat juga bukanlah rakyat Indonesia yang mayoritas berkarakter melankolis. Sehingga bukan tak mungkin justru Bradley effect atau dampak Bradley atau Dinkin effect atau Wilder effect yang akan terjadi atas Obama.
Namun, terlepas apakah Obama ataukah John McCain yang menjadi pilihan mayoritas rakyat Amerika Serikat, seyogyanya rakyat Indonesia serta kaum Muslim seluruh dunia janganlah terlalu berharap yang terlalu tinggi melambung ke awang-awang. Siapapun yang tepilih menjadi presidennya, itu tak ada pengaruhnya yang signifikan dalam kebijakan politik luar negeri Amerika. Amerika Serikat tetaplah akan menjadi sahabat dan pelindung sejati bagi Zionis Yahudi Israel, dan akan tetap dengan sepenuh hati dan segenap upaya melayani semua kepentingan dan kebutuhan Zionis Yahudi Israel.
Wallahu’alambishshwab.
*****
Semua polling memenangkan Obama atas Senator John McCain. Artinya, Barack Hussein Obama, 47 tahun, Senator Partai Demokrat dari Illinois itu, hampir dapat dipastikan akan terpilih sebagai Presiden Amerika Serikat dalam pemilihan Selasa, 4 November 2008.
Jajak pendapat oleh The Washington Post – ABC, 20 Oktober lalu, menunjukkan bahkan di kalangan konservatif – biasanya menjadi pendukung Partai Republik – Obama mengalahkan McCain dengan 22 persen. Obama menang 12 persen di kalangan Partai Republik, partainya John McCain. Malah tak sedikit pengamat meramalkan pemilu ini akan menghasilkan skor 3-0 untuk Partai Demokrat. Selain presiden, mereka memenangkan pemilihan sela untuk Senat dan anggota DPR (house of representative). Dengan demikian Amerika akan diperintah triumvirat Obama – Pelosi – Reid. Obama sebagai presiden, Nancy Pelosi sebagai Ketua DPR, dan Harry Reid sebagai ketua senat mayoritas. Mereka semua dari kubu Partai Demokrat.
Berarti Bradley effect atau dampak Bradley masih relevan di Amerika Serikat. Tak sedikit pendukung Obama yang mengkhawatirkan Bradley effect bakal terjadi dan Obama kalah dalam pemilihan.
Binatang apakah Bradley effect ?. Apa hubungannya dengan kekalahan Obama ?. Ia diambil dari nama Tom Bradley, orang hitam pertama menjadi Walikota Los Angeles.
Pada 1982, Bradley (Partai Demokrat) bertarung dengan seorang kulit putih, George Deukmejian (Republik), untuk pemilihan Gubernur California. Tom Bradley cukup populer. Berbagai polling - termasuk exit polls- memenangkannya.
Menjelang pemilihan koran-koran sudah menulis headline ia akan mengungguli George Deukmejian. Ternyata dalam pemilihan yang sebenarnya Bradley kalah.
Semula diduga polling-polling itu salah. Belakangan baru diketahui ternyata para pemilih kulit putih berbohong kepada para petugas jajak pendapat (pollsters). Mereka mengaku akan memilih calon kulit hitam karena tak mau dianggap rasialis di hadapan para poolsters.
Tapi dalam pemilihan sebenarnya yang berlangsung bebas dan rahasia –artinya, tak ada orang lain tahu pilihan mereka– orang-orang kulit putih itu memilih calon kulit putih. Sikap rasis mereka muncul di kotak suara.
Berbagai studi kemudian menemukan kasus serupa : Harold Washington dalam pemilihan Walikota Chicago (1983), David N.Dinkin dalam pemilihan Walikota New York (1989), dan L. Douglas Wilder dalam pemilihan Gubernur Virginia (1989).
Maka ada yang menyebut gejala ini sebagai Dinkin effect atau Wilder effect.
Maka dalam kampanye sekarang, Sarah Palin, calon Wapres Partai Republik, mengembangkan sentimen anti-Muslim, dengan memanggil nama tengah Obama, Hussein, dari atas panggung kampanye.
Palin sengaja ingin memojokkan Obama : sudah hitam, Islam lagi. Harapannya tentu agar pemilih terkena Bradley effect. Dalam sebuah kampanye Palin di Pennsylvania, seorang pengunjung membawa monyet memakai topi dengan stiker Obama. ‘’Ini adalah Hussein kecil’’, kata lelaki itu kepada para wartawan yang mengarahkan kamera ke monyetnya (The Washington Post, 22 Oktober 2008).
Berbagai kampanye Sarah Palin, penganut Kristen Evangelical yang taat itu, berubah menjadi arena menghujat Obama.
Ia dituduh berteman dengan teroris William Ayers yang meledakkan bom untuk memprotes perang Vietnam. Meski waktu itu Obama masih berusia 12 tahun. Malah ada peserta kampanye yang berteriak-teriak, ‘’kill him….kill him…..’’. Kaum konservatif pendukung Partai Republik memang sudah lama dipengaruhi berbagai isu, atau berita internet, yang menggambarkan Obama sebagai seorang Muslim tersembunyi. Ia dikatakan pernah belajar di sebuah madrasah di Jakarta, dipimpin kiai fundamentalis.
Dari dulu Obama adalah jemaah gereja Trinity United Church of Christ di Chicago, dipimpin pendeta radikal, Jeremiah Wright. Sang pendeta ternyata punya hubungan dengan Louis Farrakhan, pemimpin Nation of Islam. Farrakhan adalah tokoh kontroversial dan sangat dibenci orang Yahudi Amerika. Ia dituduh anti-semit. Yang pasti Farrakhan sering menyerang Israel.
Obama babak belur karena hubungannya dengan Pendeta Wright, dikaitkan dengan Louis Farrakhan. Belakangan, Pendeta Wright membuat pernyataan pers menuduh masyarakat Amerika rasialis. Pernyataannya tentu bikin heboh. Agar tak tambah ramai saja, Obama mengundurkan diri dari jemaah gereja itu.
Sebenarnya berbagai penelitian meragukan kebenaran Bradley effect. Tapi yang paling netral tampaknya dilakukan Daniel J.Hopkins, mahasiswa postdoctoral di University of Harvard. Ia meneliti pemilihan dari 1989 sampai 2006. Hasilnya, calon hitam yang maju dalam pemilihan sebelum tahun 1996, sebanyak 3% mengalami Bradley effect. Tapi setelah tahun 1996, terjadi sebaliknya.
Hopkins menemukan 3% calon hitam yang di dalam jajak pendapat dinyatakan kalah, dalam pemilihan yang sebenarnya malah menang. Hopkins berargumen telah terjadi perubahan sikap masyarakat dalam soal rasialisme. Itu karena diperlakukannya undang-undang kesejahteraan 1996, dan sejak itu terjadi penurunan tingkat kriminalitas. Masalah kriminalitas dianggap salah satu pemicu sikap rasialis orang putih. Kemenangan Barack Obama atas Hillary Clinton dalam konvensi Partai Demokrat menunjukkan Bradley effect tak lagi efektif.
Obama dan Dunia Islam.
Bahwa dari garis ayahnya, Obama memiliki keluarga Muslim, itu tak ada pengaruhnya dalam kebijakan politik luar negeri Amerika, sekali pun Obama menjadi Presiden Amerika Serikat. Misalnya, dalam hubungan dengan Israel, tak akan ada perubahan kebijakan Amerika yang signifikan.
Namun betapa pun kebijakan luar negeri Obama akan berbeda dengan lawannya John McCain, yang tampaknya hanya penerus Presiden Bush. McCain, penerbang Angkatan Laut Amerika (ayah dan kakeknya adalah admiral) pernah tertembak jatuh di Vietnam dan sempat lima tahun menjadi tahanan Vietcong. Bagi McCain, kemenangan militer AS sesuatu yang mutlak. Dengan alasan itulah ia menentang penarikan pasukan AS dari Iraq yang diusulkan Obama. Dia punya lagu dan dinyanyikannya di depan umum: ‘’bomb …. bomb Iran’’. Obama sering mengejek McCain dengan lagu itu, termasuk dalam acara debat televisi. Dalam penafsiran McCain –sebagaimana Bush– patriotisme itu selalu dikaitkan dengan kebanggaan berkorban dalam pertempuran.
Obama beda. Dia memang berjanji menangkap dan mengalahkan Usamah Bin Laden. Tapi secara khusus dia sering menyatakan pentingnya perundingan untuk menyelesaikan masalah, tak semua harus diselesaikan dengan menggunakan kekuatan militer. Obama malah sering diserang McCain karena menyatakan ingin berunding dengan Iran. Obama menyatakan akan mengadakan pertemuan dengan pimpinan negara Islam guna menyelesaikan masalah yang ada.
Di awal kampanye, ketika berbicara di Iowa, Obama mengatakan orang Palestina paling menderita di dunia ini. Pernyataan itu mendapat reaksi dan kecaman keras dari komunitas Yahudi Amerika Serikat. Obama dituduh anti-Israel.
Sejak itu di internet berseliweran isu Obama adalah seorang Muslim tersembunyi. Foto Obama berpakaian adat Kenya (negeri leluhur ayahnya) bersama seorang kiai di Kenya, beredar di internet. Karikatur Obama diplesetkan sebagai Osama Bin Laden lengkap dengan bomnya dimuat di majalah terkenal semacam The New Yorker.
Kebetulan nama Obama dengan Osama hanya beda huruf b dengan S. Maka lawan-lawan Obama sering memplesetkan nama Osama dengan Obama ketika berbicara di televisi atau radio.
Sebenarnya Amerika sekarang sudah berbeda. Dia bukanlah super power yang dulu. Sekarang negeri itu diserang resesi, sejumlah perusahaan raksasa gulung tikar. Pemerintah Amerika harus menyediakan dana 700 milyar dollar untuk menalangi perusahaan yang terancam bangkrut. Ada yang bilang dana talangan bisa mencapai lebih 1 triliun dollar. Padahal dana itu pun diperoleh dari utang, melalui penjualan surat berharga. Amerika sekarang sudah memiliki utang 11,3 trilun dollar, terutama kepada China dan negara Timur Tengah. Dengan itu Amerika menjadi negara dengan utang luar negeri terbesar di dunia. Utang itu terutama datang dari defisit perdagangan. Sudah lama Amerika mengalami defisit sekitar 400 milyar dollar/tahun.
Dengan kondisi itu, Profesor Francis Fukuyama pengajar politik di Johns Hopkin University dan Fareed Zakaria, Redaktur Majalah Newsweek berpendapat, Obama paling cocok memimpin Amerika sekarang. Dia dianggap lebih realistis dan cocok untuk memimpin negara besar yang sedang mengalami degradasi. Sekali lagi : Amerika nanti, bukan lagi Amerika yang dulu.
Mau ikutan nglink di sini? silahkan kirim permintaan kamu melalui e-mail ke
Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus memampukan JavaScript untuk melihatnya