Muhasabah media peningkatan kualiatas diri. PDF Cetak E-mail
Ditulis Oleh Oleh zayyan hadyan"   
Sabtu, 28 Juni 2008
ImageSebagai pengemban amanah dan khalifah dimuka bumi, manusia dibekali hawa nafsu oleh Allah SWT. Kalau diumpamakan, hawa nafsu ini bagaikan seorang anak kecil yang banyak diselimuti berbagai keinginan dan keingin tahuan. Kalau kita mampu mendidik dan mengarahkannya , maka anak ini akan tumbuh menjadi orang baik yang perilakunya sesuai dengan norma agama dan masyarakat. Sebaliknya, kalau dibiarkan tumbuh dalam lingkungan yang buruk maka hasilnya akan buruk pula. Begitu juga dengan hawa nafsu.

Tabiat hawa nafsu adalah selalu menggiring dan mengajak manusia kepada kelezatan dan kenikmatan hidup yang semu. Padahal kelezatan dan kenikmatan yang dijanjikan hawa nafsu akan menjerumuskan manusia kejurang kenistaan.

Maka disinilah diperlukan sebuah muhasabah atau "penjinakan", pengarahan terhadap hawa nafsu tersebut dengan cara mencegahnya dari prilaku yang buruk serta mendorongnya kepada hal yang baik.

Dalam Al quran, Allah bersumpah bahwasanya seseorang tidak akan beruntung dan sukses kecuali dengan mensucikan diri dan membersihkanya.

"Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya.

Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu,

Dan Sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya. (QS, Assyams 8-10)

Selain itu Allah berfirman dalam ayat yang lain "Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang Telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS, Al Hasyr 18).

Ibnu Katsir menerangkan, yang dimaksud "hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang Telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat)" adalah intropeksilah diri kalian sebelum nanti dihisab oleh Allah SWT, dan perhatikanlah amal sholeh apa yang telah kau investasikan untuk bekal akhir nanti".

Diriwayatkan dari Anas bin Malik, Rasulullah SAW bersabda:" beruntunglah orang yang selalu sibuk dengan aibnya sendiri dan meninggalkan aib orang lain. (H.R. Addailamy)

Khalifah Umar Bin Khattab RA pernah menulis surat kepada sebagian pembantunya, isi surat tersebut adalah:" disaat senggang, evaluasilah diri kalian, sebelum datang hisab yang sebenarnya. Karena barangsiapa yang mengevaluasi dirinya disaat senggang sebelum datang hisab yang sebenarnya, maka segala urusanya akan kembali dengan segala kerelaan dan kegembiraan. Akan tetapi barang siapa yang menyepelekan hidup dan menyibukan dirinya dengan memperturutkan hawa nafsu, maka segala urusanya akan kembali dengan penuh penyesalan dan kerugian".

Fungsi muhasabah diri:

- Mengidentifikasi aib-aib yang terdapat dalam diri.

Setiap insan yang selalu mengintrospeksi dirinya,maka dia akan mengenal kelemahan,cacat, penyakit yang ada dalam dirinya. Setelah mengetahui keadaan dirinya, dia berusaha menambal lubang kelemahanya, mengobati penyakit jiwanya serta melakukan amal-amal sholeh untuk mengubur segala kesalahanya.
- Bersiap-siap untuk menyongsong hari yang kekal.

Orang beriman meyakini bahwasanya dunia ini adalah bukan akhir dari segalanya, bukan pula finis dari suatu kehidupan yang setelahnya tanpa ada pertanggung jawaban. Mereka meyakini dunia ini adalah fana', tempat mengumpulkan bekal untuk menjalani perjalanan yang abadi nanti. Oleh karena itu mereka selalu mengadakan muhasabah diri demi suksesnya hidup yang akan dihadapinya kelak. "Dan Sesungguhnya hari Kemudian itu lebih baik bagimu daripada yang sekarang (permulaan)" (QS, Addhuha 4).

- melahirkan sifat malu terhadap Allah SWT.
- Akan selalu berusaha untuk menambal amal kebajikan
- Melahirkan rasa takut terhadfap Allah SWT.

Perjalanan hidup seorang muslim tidak selamanya berada diatas rel kebaikan, tetapi kadang kala ada rambu-rambu yang dilanggar seperti menunda-nunda shalat, ghibah dan maksiat yang lainya.

Oleh karena itu, seorang muslim sejati harus bisa menyediakan waktu untuk mengadakan muhasabah, mengkaji dan mengevaluasi dirinya sendiri.

Mencoba untuk bercermin agar noda dan dosa yang melekat dalam diri menjadi terlihat nampak jelas.

setiap muslim pasti menginginkan kesuksesan hidup didunia dan kebahagiaan di akhirat. Salah satu cara untuk menggapai cita-cita tersebut adalah dengan selalu mengevaluasi diri, agar noda dan dosa yang melekat dalam jiwa terkikis dengan lantunan istigfar disaat muhasabah dan amalan sholeh dalam kehidupan sehari-hari.

Wallahu a’lam bisshawab

Komentar
Komentar baru Cari
HANYA TERDAFTAR YANG BISA BERKOMENTAR, SILAHKAN LOGIN DAHULU!

3.20RC1-h Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

 
< Sebelumnya

Cari berita

Berlangganan

Masukan alamat email untuk berlangganan:

Delivered by FeedBurner


Suport Administrator

lutfi danny nurul

Donasi

klik di sini untuk menjadi donatur www.ranahdamai.org

Web Link

Ponpes Darussalam
kampusciamis
Special Gadget
milis alumni darussalam
milis MTs

Mau ikutan nglink di sini? silahkan kirim permintaan kamu melalui e-mail ke Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus memampukan JavaScript untuk melihatnya